Sabtu, 26 November 2011

PENGAMATAN KONSENTRASI DARAH, STRUKTUR SEL DARAH, DAN WAKTU BEKU DARAH(Hematologi II)


I. PENDAHULUAN
A. Dasar Teori
Hematologi adalah ilmu yang mempelajari tentang darah serta jaringan yang membentuk darah. Darah merupakan komponen esensial makhluk hidup. Dalam keadaan fisiologik, darah selalu ada dalam pembuluh darah sehingga dapat menjalankan fungsinya sebagai: pembawa oksigen, mekanisme pertahanan tubuh terhadap infeksi dan mekanisme hemostatis. Darah terdiri atas dua komponen utama yaitu plasma darah yang merupakan bagian cair darah yang sebagian besar terdiri atas air, elektrolit dan protein darah, sedangkankan butir darah terdiri atas eritrosit, leukosit dan trombosit.
Praktikum kali ini melakukan 3 kegiatan yaitu menghitung konsentrasi darah, mengamati struktur sel darah, dan mengamati waktu beku darah. Untuk menghitung dan mengamati struktur sel darah menggunakan preparat ikan Lele (Clarias bathrachus) dan katak (Rana cancrivora). Ikan Lele digunakan dalam praktikum kali ini karena ikan Lele mudah didapat, ukurannya relatif kecil sehingga mudah diamati dan ikan Lele dapat mewakili kelas Pisces, dan katak (Rana cancrivora) digunakan dalam praktikum kali ini karena katak (Rana cancrivora) memiliki ukuran yang relatif kecil, tidak beracun, dan dapat mewakili kelas amphibia. Untuk waktu beku darah digunakan darah manusia. Alasan digunakannya darah manusia untuk praktikum kali ini adalah darah manusia mudah didapat, mekanisme pembekuannya mudah dipahami dan waktu pembekuannya relatif singkat.

B. Tujuan
Tujuan dari praktikum kali ini adalah untuk memahami respon sel darah merah terhadap berbagai macam media yang mempunyai konsentrasi osmotis berbeda, sekaligus dapat mengetahui konsentrasi internal sel darah merah, memahami bentuk dan struktur sel serta membandingkan bentuk dan struktur sel darah ikan lele (Clarias batrachus), dan memahami proses pembekuan darah dan menentukan lamanya waktu pembekuan darah pada manusia.
II. MATERI DAN METODE

A.MATERI

Materi yang digunakan dalam praktikum ini adalah darah manusia, darah ikan lele (Clarias  batrachus), darah katak (Rana cancrivora), larutan NaCl fisiologis 0,2%; 0,4%; 0,6% ; 0,9%; dan 1%, antikoagulan Na-sitrat, object glass dan cover glass, mikroskop, mikrometer, lancet, cawan, kapas, alcohol 70 %, dan pembuluh kaca kapiler.


B.METODE
1.        Konsentrasi dan struktur sel darah merah
a.         Darah katak (Rana cancrivora)diambil darahnya dan ikan lele (Clarias batrachus) diambil dengan cara memotong ekornya.
b.         Darah diteteskan pada cawan yang telah diberi antikoagulan Na-sitrat/EDTA secukupnya.
c.         Darah diteteskan pada object glass, lalu ditambahkan 3 tetes NaCl 0,2%, kemudian digoyangkan agar tercampur. Cairan tersebut ditutup dengan cover glass.
d.        Campuran tersebut diamati dengan mikroskop dan sel darah merah diukur diameternya.
e.         Langkah kerja di atas dilakukan untuk tetesan darah berikutnya dengan menggunakan NaCl 0,4 %; 0,6% ; 0,9%; dan 1%.

2.        Waktu beku darah
a.         Jari tangan dibersihkan dengan alcohol 70 %. Setelah alcohol mengering, jari ditusuk dengan lancet steril sekali pakai (disposable).
b.         Pipa kapiler ditempelkan ke tetesan darah yang keluar dari jari tangan.
c.         Dengan interval waktu 1 menit, pembuluh kaca kapiler dipotong sedikit demi sedikit sampai fibrin yang terbentuk terlihat.
d.        Waktu yang diperlukan darah untuk membeku dicatat.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    HASIL
Kelompok
Hewan Uji
Diameter sel darah pada konsentrasi x
0,2%
0,4%
0,6%
0,9%
1%
1
Ikan Lele
7,5 μm
5,85 μm
8,3 μm
6,25 μm
8,5 μm
2
3
Manusia
5,75 μm
5 μm
6,5 μm
7,5 μm
5 μm
4
5
Katak
12,5 μm
11,25 μm
11,14 μm
24,6 μm
26,2 μm
6

Tabel 1. Data pengamatan diameter sel darah

Kelompok
Waktu beku darah
1
2 Menit
2
2 Menit
3
1 Menit
4
6 Menit
5
1 Menit
6
4 Menit
\
Tabel 2. Data pengamatan waktu beku darah



Gambar Mikroskopis Diameter Sel Darah Ikan Lele (Clarias batrachus)





Gambar 1. Diameter sel darah dengan larutan NaCl 0,2%






Gambar 1. Diameter sel darah dengan larutan NaCl 0,4%





Gambar 1. Diameter sel darah dengan larutan NaCl 0,6%
B. PEMBAHASAN
Bila setetes darah dimasukkan ke dalam larutan NaCl yang lebih pekat dari pada cairan isi sel darah merah, air yang ada di dalam sel darah merah akan banyak yang keluar akibatnya sel darah merah akan mengkerut. Keadaan yang demikian ini disebut krenasi. Sel darah merah yang dimasukkan ke dalam urea atau NH4Cl yang mempunyai tekanan osmosis lebih tinggi dari pada larutan NaCl 0,9 % tidak mengalami krenasi tetapi mengalami hemolisa. Hemolisa adalah peristiwa keluarnya hemoglobin dari dalam sel darah merah menuju ke cairan sekelilingnya. Keluarnya hemoglobin ini disebabkan pecahnya membran sel darah merah. Selama kedua subtansi tersebut di atas tidak bersifat melarutkan membran sel darah merah kita dapat menyimpulkan bahwa kedua subtansi tersebut dapat melalui atau menembus membran sel darah merah dan berkelakuan seperti air (Wulangi, 1993)
Ketika darah berkontak dengan udara (di luar tubuh makhluk hidup), salah satu globulin plasma (fibrinogen) mengendap sebagai jala-jala filamen halus, disebut fibrin. Pengerutan bekuan darah atau plasma menghasilkan cairan jernih, kekuningan yaitu serum. Adanya fibrin-fibrin yang membentuk jala-jala yang menyaring dan menghentikan aliran darah disebut pembekuan darah atau thrombus (Paparo, 1996).
Kita semua pernah mengalami luka dan terpotong atau tergores selama hidup kita, akan tetapi kita tidak mengalami pendarahan yang menyebabkan kematian karena darah kita mengandung materi yang dapat menyumbat kebocoran atau luka dalam pembuluh darah kita. Bahan pelekat itu selalu ada dalam darah kita dalam bentuk inaktif yang disebut fibrinogen. Gumpalan akan terbentuk hanya ketika protein plasma ini diubah ke dalam bentuk aktifnya, fibrin, yang menggumpal menjadi benang-benang yang membentuk anyaman gumpalan-gumpalan. Mekanisme penggumpalan itu umumnya dimulai dengan pembebasan faktor-faktor penggumpalan dari trombosit dan melibatka rantaian reaksi yang kompleks yang pada akhirnya akan mengubah bentuk fibrinogen menjadi fibrin (Campbell, 2004).
Penting untuk menghentikan keluarnya darah dari sistem sebelum berakhir dengan kegoncangan atau kematian. Pemadatan atau pembekuan darah mampu menghentikan semua pendarahan ini. Kecuali pada pembuluh darah yang rusak, keping darah melekat pada permukaan dalam dinding pembuluh tersebut. Pembuluh darah dan sel-sel rusak di daerah ini melepaskan bahan bersifat lemak yang diaktifkan untuk protein-protein tertentu (faktor pembekuan) di dalam darah membentuk “tromboplastin”. Dengan adanya ion kalsium dan faktor pembeku tambahan dalam plasma, tromboplastin mengkatalisis perubahan protombin (suatu globulin serum yang dibuat terus menerus oleh hati) menjadi trombin. Trombin adalah sebuah enzim yang mengkatalisis perubahan fibrinogen protein plasma yang dapat larut menjadi fibrin secara berangsur membentuk suatu lubang tempat sel-sel darah tertanam. Dengan segera dibangun suatu bendungan (bekuan) yang menghentikan keluarnya darah dari pembuluh darah yang pecah (Kimball, 1999).
Penggumpalan darah adalah proses majemuk dan memerlukan berbagai faktor. Trombin tidak ada dalam darah normal yang masih dalam pembuluh. Tetapi yang ada adalah zat pendahulunya, prototrombin, yang kemudian diubah menjadi zat aktif trombin oleh trombokinase. Trombokinase atau tromboplastin adalah zat penggerak yang dilepaskan ke darah di tempat yang luka. Diduga terutama tromboplastin terbentuk karena terjadinya kerusakan pada trombosit, yang selama ada garam kalsium dalam darah, akan mengubah protrombin menjadi trombin sehingga terjadi penggumpalan darah (Pearce, 2002).
Untuk menghasilkan penggumpalan darah maka diperlukan 4 faktor :
1). Garam kalsium yang dalam keadaan normal ada dalam darah.
2). Sel yang terluka yang membebaskan trombokinase.
3). Trombin yang terbentuk dari protrombin bila ada trombokinase.
4). Fibrin yang terbentuk dari fibrinogen disamping trombin (Leeson.1990).






KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan sebelumnya dapat diambil kesimpulan bahwa :
1.        Darah pada konsentrasi NaCl 0,2% dan 0,4% cenderung melakukan reaksi berupa hemolisa sel tidak menyeluruh. Hemolisa pada sel dalam larutan NaCl 0,6% terjadi secara menyeluruh. Sel darah pada konsentrasi 0,9%, dan 1% melakukan reaksi krenasi yaitu mengkerutnya membran plasma yang menyebabkan keluarnya sitoplasma dari dalam sel.
2.        Darah pada kelompok 1 membeku pada menit ke-2 setelah pemotongan pipa kapiler. Perbedaan waktu pembekuan darah pada masing-masing individu sampel dapat disebabkan oleh adanya perbedaan kadar glukosa dalam darah serta perbedaan kekentalan darah. Selain itu, keberadaan faktor-faktor yang berperan dalam pembekuan darah seperti vitamin K juga sangat berpengaruh.











DAFTAR REFERENSI
Campbell, Neil A; Jane B. Reece dan Lawrence G. Mitchell. 2004. Biologi Jilid 2 Edisi Ketiga. Erlangga, Jakarta.
Kimball, J.W. 1999. Biology Fifth Edition . Addison Wesley Publishing Company Inc., London
Leeson C. R., dkk. 1990.Buku Ajar Histologi Edisi V . EGC. Jakarta
Paparo, l. l. 1996.Atlas Histologi Berwarna. Binarupa Aksara, Jakarta.
Pearce, Evelyn C. 2002.Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. PT. Gramedia, Jakarta.
Siregar , D.A. 1995. Makanan Ikan. Penebar Swadaya ,Jakarta.
Wulangi, Kartolo S. 1993. Prinsip-Prinsip Fisiologi Hewan. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar